Tunagrahita
A. Pengertian
Tunagrahita :
Tunagrahita
atau mental retardation adalah
istilah untuk menyebutkan anak yang memiliki kemampuan intelegensi di bawah
rata-rata disertai dengan berkurangnya kemampuan untuk menyesuaikan diri
(berperilaku adaptif). Tuna berarti merugi dan grahita berarti berpikir.
B. Klasifikasi
Tunagrahita :
1. Anak
tunagrahita mampu didik (debil)
Adalah
anak tunagrahita yang tidak mampu mengikuti pada program sekolah biasa, tetapi
ia masih memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pendidikan walaupun
hasilnya tidak maksimal.
2. Anak
tunagrahita mampu latih (imbecil)
Adalah
anak tunagrahita yang memiliki kecerdasan sedemikian rendahnya sehingga tidak
mungkin mengikuti program yang diperuntukkan bagi anak tunagrahita mampu didik.
3. Anak
tunagrahita mampu rawat (idiot)
Adalah
anak tunagrahita yang memiliki kecerdasan sangat rendah sehingga ia tidak mampu
mengurus diri sendiri atau sosialisasi.
C. Karakteristik
anak tuna grahita (Delphie, 2006: 17) meliputi hal-hal sebagai berikut :
a.
Selalu bersifat
eksternal locus of control sehingga
mudah sekali melakukan kesalahan (expectancy
for filure).
b.
Suka meniru perilaku
yang benar dari orang lain dalam upaya mengatasi kesalahan-kesalahan yang
mungkin ia lakukan (outerdirectedness).
c.
Mempunyai permasalahan
berkaitan dengan perilaku sosial (social
behavioral).
D. Penyebab
Tunagrahita
1. Genetis/keturunan
a. Kelainan
pada kromosom ke 21 -> down syndrome
b. Kelainan
pada kromosom ke 15 -> patau’s syndrome
2. Gangguan
metabolisme dan gizi
a. Kekurangan
tyroxin/cretinisme
b. Infeksi
dan keracunan kehamilan
3. Trauma
dan zat radioaktif
a. Kelahiran
yang sulit dan menggunakan tang
b. Kelahiran
bermasalah dan kejang
4. Lingkungan
a. Kurangnya
kesadaran orangtua akan pendidikan dan kesehatan
b. Kurangnya
nutrisi/gizi
E. Penanganan
dalam Kelas
1. Guru
tidak mengharuskan siswa tunagrahita untuk mencapai tujuan yang tercantum dalam
RPP.
2. Guru
bersikap tanggap dalam memberikan bantuan.
3. Guru
sering mendampingi anak tunagrahita.
4. Guru
memberikan motivasi.
5. Guru
memberikan umpan positif dan membenarkan jawaban anak tunagrahita.
6. Guru
selalu mengulang materi pembelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya.
Daftar Referensi
Wikasanti,
Esthy. 2014. Mengupas Terapi Bagi Para
Tunagrahita. Yogyakarta: Maxima.
Rachmayana,
Dadan. 2013. Diantara Pendidikan Luar
Biasa, Menuju Anak Masa Depan Yang Inklusif. Jakarta Timur: Luxima Metro
Media.
Smith,
David. 2013. Sekolah Inklusif Konsep dan
Penerapan Pembelajaran. Bandung: Nuansa Cendekia.
Delphie.
Bandi. 2006. Pembelajaran Anak
Berkebutuhan Khusus. Bandung: PT Refika Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar